OPINI

Senin, 04 Oktober 2021 | 20:17

Akhir Juli 2019, saya dengan beberapa kawan berjumpa dengan Cali, Ashari Al Rumi di sebuah café nan sederhana di Majene, Sulawesi Barat. Ia datang mengenakan kaos hitam bergambar S, logo Superman, dengan dibalut jaket cokelat yang tampak kebesaran. Senyumnya hangat sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Kami lalu larut dalam obrolan hingga tak sadar siang berganti malam. Hanya waktu salat yang membuat kami beranjak dari tempat duduk. Cali selalu paling awal berada di musalah kecil cafe tersebut, kemudian menyusul yang lainnya.

Itu kali pertama saya berjumpa dengan Cali. Selama dua tahun sebelumnya, kami hanya berbincang lewat telepon. Maklum, saya jarang-jarang pulang ke Majene lantaran menggantungkan hidup di perantauan. Kami akrab karena dipertemukan oleh profesi yang sama yakni jurnalis.

Kami sama-sama punya mimpi besar dalam profesi ini; membangun media massa yang tak sekadar menjaga prinsip jurnalisme, tapi juga bisa menjadi sandaran hidup yang tak melulu menghamba ke penguasa. Profesi yang diharapkan menjadi trigger bagi anak-anak Mandar untuk mengenali karakter budaya dan menjadikannya sebuah keunggulan. Sehingga tidak mudah terseret dalam kubangan yang cukup dalam pada era pascakebenaran ini.

Mimpi-mimpi itu coba kami susun sedikit demi sedikit hingga hari ini. Berusaha kami rawat kendati masih jauh dari lari yang kencang. Namun saya selalu bangga lantaran kolaborasi kami sudah terwujud dalam beberapa karya yang bisa dinikmati hingga di masa yang akan datang.

Bagi saya, Cali adalah sosok jurnalis yang punya tekad yang kuat. Ia tak pernah bosan belajar merangkai kata dan merajut fakta peristiwa. Hasilnya, tulisan Cali boleh dikata sudah sejajar jurnalis-jurnalis nasional. Ia cukup lihai bila menulis persoalan sosial. Pun demikian tulisan yang dalam bila menyorot budaya dan sejarah. Seperti tergambar dalam tulisan kakek pemungut sampah di Sungai Mandar, persemayaman jenazah di Mamasa, serta asal usul monumen perjuangan di Majene di situs berita ini.

Teka Teki di Balik Monumen Perjuangan di Majene
Melihat Prosesi Mangallung, Persemayaman Jenazah di Mamasa
Kakek Eccu, Pemungut Sampah di Sungai Mandar


Pribadi Cali juga sangat menawan. Dia sosok yang kritis tapi juga humoris. Dalam banyak percakapan selalu ada canda yang mengocok perut kami sekaligus membuat saya berpikir. Misalnya beberapa waktu lalu saya sedang mengumpulkan bahan untuk membuat vlog soal pemali. Saat saya bertanya di grup whatsapp soal apa saja pemali di Sulbar, dia jawab “ Jangan mencampur kopi dengan air panas, nanti bisa ngopi,” tulisnya disambung ikon ketawa.

Sejak awal tahun ini hubungan kami makin intens, selain soal jurnalistik, saya juga berencana tetanggan dengan Cali di Majene. Ya, kami akhirnya sama-sama beli rumah di sana. Rumah Cali hanya berjarak dua petak dari kediaman mungil saya. Semula kami berencana berdempetan, tapi rumah yang saya incar duluan disabet orang. Tak masalah, toh, kami tetap tetanggaan. Cali sangat membantu dalam proses pencarian rumah tersebut.

Saya selalu bercanda sama Cali soal kapan rumahnya diisi “selimut bernyawa”, perumpamaan personal kami soal pendamping hidup. Dia selalu tertawa lepas bila membahas hal tersebut. Kapan waktu dia minta dicarikan pendamping di perantauan, katanya supanya mahar tidak mahal. Terus saya jawab, justru biaya hidupnya yang mahal. Hahaha, Cali…Cali.

Beberapa waktu lalu, Cali memposting foto sedang di RS melalui status whatsapp. Baru kali ini saya hanya melihat tapi tidak menanggapi. Dalam hati, paling hanya berobat biasa. Cali memang beberapa kali sakit tapi segera pulih. Namun belakangan beberapa kawan mengabarkan dia terbaring di RS. Saya lalu kirim WA, namun tak dijawab.

Saya kira dia kehabisan kuota internet, karena biasanya ketika mengirim WA ke nomornya, akan muncul pesan otomatis yang mengingatkan saya pada toko online, hehehe. Saya juga tidak berusaha menelepon lagi karena menduga dia butuh istirahat. Padahal saya juga kangen dengan nada deringnya yang super ajaib; suara orang yang menjawab telepon mirip suaranya sendiri, hahaha...

Namun, kabar sesak pun datang; Cali menghembuskan nafas terakhir pada Minggu malam 3 Oktober 2021. Jari saya gemeter saat menelpon
Irwan Fals, sahabat Cali, untuk memastikan kabar tersebut. Saya langsung lemas. Sesaat saya hentikan kerjaan kantor yang sudah jelang deadline. Lalu terbayang lagi bagaimana mimpi-mimpi kami, terkenang candaan-candaannya yang kadang garing, dan teringat rencana kami mengurusi rumah sebagai tetangga.

Salah satu sesal yang tiba-tiba datang, saya belum sempat memberimu kaos 50 tahun Majalah Tempo, kawan. Saat video call-an beberapa waktu lalu, kau meminta baju serupa yang saya pakai itu. Dan saya janji akan memberimu bila pulang ke Sulbar tahun depan. Ah, benar-benar saya kehilanganmu kawan.

Cali, kau akan selalu lekat dalam memori kami sebagai sahabat, walau tak dipungkiri waktu akan mengikis ingatan. Tak usah risau, tulisan-tulisanmu akan abadi kawan. Akan dibaca hingga anak cucuku nanti. Selamat tinggal Cali, sampai jumpa!


TS



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas