Polewali Mandar

Minggu, 21 April 2019 | 18:17

Tugu Patung Pahlawan Nasional, Andi Depu di Tinambung, Polman/ Sulbarkita.com-Eri

Polman, Sulbarkita.com -- Hari ini Minggu 21 April 2019 adalah Hari Kartini.  Hari yang didaulat  masyarakat sebagai hari emansipasi kaum perempuan. Perayaannya pun menggema di seantero negeri.

Di mana-mana Kartini yang dari Rembang, Jawa Tengah itu dielu-elukan. Disanjung sebagai perempuan modern melampaui masanya.

Sayangnya penghargaan untuk pahlawan perempuan tak semuanya sama. Misalnya Andi Depu yang baru saja mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional. Tugunya di Tinambung, Polman tak terawat.

Disekitar Tugu patung Pahlawan Nasional, Andi Depu yang terletak di Kelurahan Tinambung, Kecamatan Tinambung, Polman ditumbuhi rumput liar. Hal itu dikeluhkan cucu langsung Raja Balanipa ke 51-52 ini, yakni Andi Guntur Parenrengi Depu.

Andi Guntur menyatakan, pihaknya telah mengadukan perihal pembenahan taman kepada Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar. “Saya sudah menghadap di kantor bupati, tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut,” ujarnya kepada Sulbarkita.com di kediamannya, Minggu, 21 April 2019.

Menurut Andi Guntur, ia mengadukan lampu penerangan sekitar taman dan patung yang tidak kunjung menyala. “Sudah bertahun-tahun lampunya tidak menyala yang mengakibatkan suasana sekitar taman gelap kalau malam hari,” kata dia.

Dari pantauan Sulbarkita.com di lokasi monumen pada Minggu, 21 April 2019 sore, patung Andi Depu setinggi 4 meter itu berdiri disebuah taman berbentuk persegi tiga dengan luas seukuran lapangan voli.

Permukaan taman ditumbuhi rumput liar yang terbilang tebal, demikian juga di sekeliling taman ditumbuhi rumput liar yang menjalar. Patung pahlawan perempuan yang menghadap kearah Selatan itu juga berwarna pudar, cat yang melapisi permukaan patung mulai luntur.

Kata Andi Guntur, keluarganya yang berdomisili persis di belakang tugu patung merupakan bangunan pemerintah di atas tanah milik Andi Depu. “Ini bangunan pertemuan waktu Letkol. (Purn) Abdullah Madjid menjabat sebagai Bupati Polman diperiode 1966 – 1979. Kami tinggal disini sejak 1993,” kata Andi Guntur.

Ia pun berharap ada perhatian pemerintah terhadap kondisi patung. Apalagi, kata dia, Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar dan Bupati Polman, Andi Ibrahim Masdar juga merupakan cucu dari Andi Depu. “Saya masih keluarga dengan mereka, saya juga berharap perhatian dari pemerintah kepada kami yang merupakan anak cucu Andi Depu,” kata Andi Guntur.

Ditempat yang sama, istri Andi Guntur, Jasmiati, 49 Tahun, juga menyayangkan pemerintah yang tidak memperhatikan bangunan yang menjadi ikon Provinsi Sulawesi Barat itu. Ia mengaku sering membersihkan sampah di taman jika memiliki waktu lowong. “Kami saja sekeluarga yang bekerja bakti untuk membersihkan taman,” ujarnya mendampingi sang suami.

Lanjut Jasmiati, taman sering digunakan pelajar tingkat SMA untuk menggelar kegiatan upacara peringatan hari-hari tertentu. “Ada pelajar dari Polewali bahkan ada juga dari Mamuju. Mereka mengadakan semacam upacara peringatan di hari-hari tertentu,” ucapnya.

Sementara itu, warga setempat, Jailan, 50 Tahun, menyatakan, monumen pahlawan nasional itu selama ini digunakan warga untuk mengambil gambar dan bersantai. “Terakhir direnovasi sekitar 3 tahun lalu, tapi sekarang sudah ditumbuhi lagi rumput dan catnya juga sudah mulai luntur,” katanya kepada Sulbarkita.com.

Andi Depu yang bergelar Ibu Agung dianugerahi label Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta bersama lima tokoh lainnya pada Kamis, 8 November 2018.

Pemberian gelar pahlawan kepada perempuan berdarah Mandar kelahiran Tinambung, pada Agustus 1907 silam itu sesuai Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 123/TK/Tahun 2018, tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Erisusanto



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas