Tokoh

Rabu, 30 September 2015 | 11:29

Selama ini kita mengenal perempuan-perempuan hebat dari berbagai pelosok Tanah Air, yang sudah berbuat banyak untuk negeri ini. Di antaranya Tjoet Nyak Dien, Nyi Ageng Serang, Kartini, serta Christina Martha Tiahahu. Kegigihan perjuangan mereka tak bisa dilepaskan dari sejarah Indonesia hingga menjadi negara berdaulat.

Dari tanah Mandar, Sulawesi Barat pun sebenarnya banyak perempuan tangguh yang berperan besar mengusir penjajah dari Nusantara. Sebut saja Puang Depu Arayang Balanipa ke-53, Haji Maemunah Pance, St. Jala’ Hamzah, Ruaidah Rauf, Rosmiani Achmad, Haji Habibah Pawannari, serta Haji Ummihani Salam.

Ada pula I Latta -permaisuri Arayang Pamboang Ajuara, dan Haji Jamilah, istri Kaco Puang Ammana I Pattolawali Mara’dia Malolo Pambuang dan Banggae. Baik I Latta maupun Jamilah, dikenal karena kegigihan mereka mendampingi sang suami bahkan dalam keadaan perang dan di pengasingan.

Sedangkan Puang Depu Maraddia Balanipa yang bergelar Ibu Agung, mendapat anugerah Bintang Maha Putra Tingkat IV dari pemerintah atas perjuangannya di bidang politik dan bangsa. Berkat ia pulalah Tinambung, Polewali Mandar, ketika itu jadi satu-satunya daerah di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan yang tak bisa ditaklukkan Belanda. Tak heran bila Belanda menganggap Ibu Agung musuh besarnya.

Ibu Agung yang lahir pada 1907 memang pantas menjadi “legenda” dalam sejarah negeri ini. Bagaimana tidak, ia pernah mengibarkan bendera Merah Putih pada akhir 1944 di tanah Mandar, Sulawesi Barat. Padahal ketika itu pengibaran Merah Putih dan pemutaran lagu kebangsaan Indonesia Raya dilarang Jepang karena bisa membangkitkan semangat patriotisme membela Bumi Pertiwi.

Ibu Agung juga pernah mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada 1942 pada awal kedatangan tentara Nippon di Mandar. Kala itu ia sedang berpidato di sebuah rapat peringatan Hari Sumpah Pemuda di Tinambung, Balanipa, yang dihadiri rakyat Mandar, serta seluruh raja dan pemangku adat setempat.

Peristiwa lainnya yang menunjukkan semangat Ibu Agung membela Tanah Air adalah ketika pasca-kemerdekaan, Sekutu kembali masuk ke Indonesia dan memaksa bendera Merah Putih diturunkan dari tiang-tiang. Perintah Belanda itu ditentang keras oleh Ibu Agung. Dengan gagah berani, ia menolak menurunkan bendera Merah Putih yang berkibar di halaman Istana Kerajaan Balanipa. Tiang bendera Merah Putih pun didekapnya, sebagai tanda perlawanan pada kebengisan Belanda.

Dalam perjuangan melawan penjajah, Ibu Agung selalu berusaha jadi yang terdepan mempertahankan Merah Putih. Ia tak peduli kendati pada akhirnya sempat menjalani intimidasi dan siksaan di Tangsi Militer di Majene, serta dijebloskan ke penjara Layang di Makassar.

Atas kontribusi itu, layak kiranya Ibu Agung menjadi salah satu pahlawan nasional, seperti diusulkan ke Kementerian Sosial. Ia memang sosok perempuan perkasa, yang tak hanya berjasa bagi tanah leluhurnya, tapi juga Nusantara. Seruannya pada masa lalu pun hingga kini terus membekas dan meniupkan semangat baik pada lelaki maupun perempuan. “Moa’ namunduro-o mie’ Tommuane, alai mai lasomu!” (“Jika kalian para lelaki mundur dari pertempuran ini, lebih baik kelelakianmu itu diserahkan kepada kami!”).

SULBARKITA |Dari berbagai sumber
foto : kampoeng-mandar.blogspot.com



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas