MAMUJU — Lanskap media massa tengah mengalami disrupsi radikal. Penurunan drastis trafik pencarian akibat fitur kecerdasan buatan (AI) di mesin telusur memaksa insan pers untuk berevolusi. Jurnalisme masa depan kini bertumpu pada kemampuan wartawan untuk berpenetrasi langsung ke media sosial sebagai jurnalis konten kreator yang adaptif, tanpa meninggalkan prinsip verifikasi ketat.
Hal tersebut mengemuka dengan kuat dalam acara Capacity Building Wartawan Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Mamuju, Sulawesi Barat, pada Kamis (29/7/2026). Hadir sebagai narasumber utama, pakar media sekaligus jurnalis senior televisi, Tri Suharman, menyoroti tajam urgensi adaptasi jurnalisme ekonomi di era digital.
Ancaman Disrupsi dan Jurnalis Konten Kreator
Dalam paparannya, Tri mengungkapkan sebuah realitas baru: trafik organik global dari mesin pencari seperti Google anjlok hingga 33 persen. Penurunan ini diakibatkan oleh fitur AI Overview yang meringkas informasi secara otomatis, sehingga mengubah perilaku audiens yang tidak lagi aktif menelusuri portal berita.
"Jika berita kita tidak didistribusikan secara agresif menembus feed media sosial, liputan sehebat apa pun akan mati tanpa pembaca atau penonton," jelas Tri Suharman.
Menghadapi tren ini, ia menegaskan pentingnya profesi jurnalis bertransformasi menjadi "Jurnalis Konten Kreator". Saat ini, sebanyak 76 persen penerbit media global telah mengubah staf jurnalis mereka menjadi kreator konten digital yang berfokus pada distribusi media sosial. Strategi penyampaian informasi juga bergeser; dari format teks formal menjadi prioritas video singkat di platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram yang mengandalkan engagement visual.
Menguasai Attention Economy di Media Sosial
Penetrasi ke media sosial mengharuskan pewarta untuk memenangkan Attention Economy (Ekonomi Perhatian). Tri memaparkan bahwa rentang perhatian rata-rata manusia kini menyusut drastis menjadi hanya sekitar delapan detik.
Strategi hook (pancingan) yang kuat mencakup daya tarik visual yang tidak terduga, audio unik yang sedang tren, hingga teks pembuka yang membangkitkan rasa ingin tahu audiens seketika. Praktik ini dibalut dalam teknik Digital Storytelling—dari awal (hook) untuk menarik atensi, tengah (core) untuk menjaga keseimbangan nilai berita, hingga akhir (action) yang membangun hubungan bermakna dengan publik.
Cerdas Memanfaatkan AI dan Penegakan The Golden Rule
Lebih lanjut, Tri mendorong para jurnalis untuk lincah menggunakan ragam perangkat lunak kecerdasan buatan (AI) guna mendukung produksi konten. Tools seperti ChatGPT, Gemini, Claude, asisten transkripsi seperti Riverside, hingga generator video masa kini dapat mempercepat kerja-kerja redaksional.
Akan tetapi, kemudahan teknologi tersebut membawa peringatan keras. Tri menuntut wartawan agar senantiasa awas terhadap potensi halusinasi AI—informasi keliru yang diciptakan oleh mesin. Kewaspadaan ini harus diimbangi dengan disiplin verifikasi ketat sebagai The Golden Rule (Aturan Emas) dalam jurnalisme digital.
"Hoaks menyebar dalam hitungan detik—verifikasi adalah kewajiban mutlak. Fact-checking di dapur redaksi adalah nyawa media yang kredibel," tegas Tri. Pendekatan Data-Driven Journalism juga dinilai sangat efektif untuk memperkuat fungsi watchdog sekaligus mengembalikan kepercayaan publik yang terus tergerus.
Melalui sesi pelatihan bersama sekitar 70 jurnalis media siber di Sulawesi Barat ini, Bank Indonesia berharap para wartawan daerah dapat terus meningkatkan kapasitas.
Jurnalisme yang sehat tidak boleh kalah oleh disrupsi teknologi maupun fluktuasi ekonomi. Dengan resiliensi dan adaptasi yang konsisten, pers akan terus bertumbuh, mengabarkan kebenaran, mencerdaskan bangsa, dan berdiri kukuh sebagai pilar penopang demokrasi.
(Erisusanto)
Rabu, 29 Juli 2026 | 09:27
Narasumber Tri Suharman Membedah strategi jurnalisme digital bersama 70 wartawan media siber Sulbar

Komentar Untuk Berita Ini (0)
Posting komentar