Cerita Rakyat & Dongeng Sulbar Mandar

Rabu, 02 Desember 2020 | 22:07

Kisah Ikan Tuing-Tuing/Sumber: Buku Tuing-Tuing Dan Pancing Emas

PADA suatu masa, di Mandar, Sulawesi Barat, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Namanya Arung Paria. Raja Arung mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Mereka hanya disapa Putra Raja dan Putri Raja saja karena menyebut nama anak raja di masa itu sesuatu yang tabu. Kerajaan Arung Paria sangat kaya dan terkenal dengan beragam pusakanya. Salah satunya adalah Pancing Emas.

Pada suatu pagi, awan masih agak gelap karena matahari belum bersinar sempurna. Raja Arung Paria sudah duduk di singgasana. Para penggawa dan para hulubalang datang menghadap untuk melaporkan perkembangan di negeri Mandar. Salah satu punggawa tampak cemas gemetaran. Ternyata yang akan dilaporkannya sebuah kabar buruk; pusaka Pancing Emas lenyap! “Mohon ampun, Baginda. Hamba teledor dalam menjaga pusaka Kerajaan,” katanya ketakutan.

BACA JUGA:
CERITA RAKYAT: Si Cantik Samba Paria dari Tanah Mandar
CERITA RAKYAT: Paummisang, Kakek Pemakan Tebu dari Tinambung

Raja Arung Paria terkejut mendengar kabar tersebut. Ia lantas bergegas menuju ruang penyimpanan pusaka untuk mengecek kebenarannya. Arung Paria pun murka. “Siapa pun yang ketahuan menghilangkan Pancing Emas akan dijatuhi hukuman adat,” katanya. “Rakyat, penggawa, hulubalang, atau keluarga kerajaan yang menjadi pelaku harus keluar dari istanaku,” lanjut Raja Arung Paria.

Para hulubalang dan para penggawa hanya diam. Raja Arung Paria lantas meminta mereka mengumpulkan semua rakyat untuk mencari pelaku yang menghilangkan Pancing Emas tersebut. Namun tidak ada satu pun yang mengaku. Namun, tiba-tiba Putra Raja datang dan bersimpuh di hadapan ayahandanya. “Ampuni hamba, Ayahanda. Hamba ingin melaporkan siapa yang menghilangkan Pancing Emas,” katanya. Suara Putra Raja itu memecahkan keheningan. “Siapa yang pelakunya, Nak?” kata Raja. “Ayahanda, maafkanlah hamba. Hambalah pelakunya,” kata Putra Raja. Ia mengaku menghilangkan Pancing Emas saat menggunakannya memancing di laut secara diam-diam beberapa hari sebelumnya.

Laporan putra Raja itu sangat mengejutkan Raja Arung Paria dan para punggawa kerajaan. Sang Raja kemudian menutup kedua telapak tangan ke mukanya. Dia teringat pada janjinya untuk menghukum pelaku yang kini tak lain adalah putra kesayangannya itu. “Tinggalkan istana ini, Nak! Pergilah! Susuri Pantai Mandar itu! Jangan berhenti sebelum kautemukan Pancing Emas itu,” kata Raja Arung Paria.

Esok harinya, ketika matahari baru terbit, semua penggawa dan hulubalang, serta rakyat sudah berjajar rapi di depan gerbang istana Kerajaan Arung Paria. Mereka semua hendak melepas sang Putra Raja yang diganjar hukum adat. “Pergilah, Putraku. Jangan kembali ke istana sebelum kautemukan Pancing Emas itu!” kata Raja sambil memeluk putranya. Putri Raja juga ikut menangis sambil menyatakan keinginannya mendampingi kakaknya pergi dari kerajaan. “Saya akan selalu bersama Kakak dalam menjalani hukum adat itu,” pinta Putri Raja sambil terus menangis.

Tekad sang putri sepertinya sudah bulat, semua bujukan untuk tetap tinggal di Kerajaan ditolaknya. Sang Raja akhirnya pasrah merelakan putra putrinya meninggalkan kerajaan mencari Pancing Emas tersebut. Bahkan tanpa pengawalan karena terikat hukum adat. Maka berangkatlah kedua kakak beradik itu.

Di perjalanan, Putra Raja membujuk sang adik untuk menunggunya di sebuah gubuk yang akan dibuat Putra Raja. Ia tak tega sang adik ikut menanggung kesalahannya dan melakukan perjalanan yang sangat berat. Kendati sempat menolak, akhirnya sang adik menuruti keinginan Putra Raja untuk tinggal di gubuk.

Perjalanan pun dimulai seorang diri oleh sang Putra Raja. Sepanjang pantai Mandar sudah disusurinya sampai benar-benar kehabisan tenaga. Namun Pancing Emas yang dicarinya tak kunjung ditemukan. Putra Raja lalu berhenti di bawah pohon rindang yang tumbuh di pinggir pantai. Kelelahan dan dinginnya angin pantai tak sadar membuatnya tertidur lelap.

Di dalam tidurnya Putra Raja itu bermimpi melihat kerajaan di dasar laut yang sangat gemerlap karena terbuat dari emas dan bertatahkan berlian. Putra Raja lalu tersentak bangun karena mimpinya itu. Putra Raja lalu melanjutkan perjalanannya walaupun hari telah larut malam. Ketika melihat ke lautan, ia tiba-tiba melihat sebuah cahaya yang sangat terang. Putra Raja kemudian memberanikan diri untuk berenang ke dasar laut mengikuti cahaya tersebut.

Betapa terkejutnya Putra Raja setelah tiba di dasar laut. Di sana berdiri sebuah Istana yang sangat megah. Pintu istana berukirkan emas dan bertakhtakan berlian. Tampak beberapa pengawal berjaga di depannya. Putra Raja memberanikan diri mendekati istana dan bertanya soal kerajaan tersebut. Ternyata, nama kerajaan itu adalah Kerajaan Naungsasi.

Ketika berada di dekat pintu gerbang istana, sayup-sayup terdengar suara perempuan yang merintih kesakitan. Putra Raja pun bertanya kepada penjaga istana ihwal suara itu. “Itu Putri Dasar Laut yang sedang sakit,” ujar pengawal. Putra Raja kembali teringat pada mimpinya yang persis dengan kejadian yang dialami saat itu.

Menurut si pengawal, sudah banyak tabib yang mengobati, tetapi sang putri belum juga sembuh. “Apakah Tuan tahu tabib hebat yang bisa menyembuhkan putri raja kami?” tanya penjaga yang lainnya. Lantaran penasaran, Putra Raja pun menawarkan diri. “Saya bukan tabib, Tuan. Akan tetapi, saya ingin mencoba mengobati penyakit Putri Dasar Laut itu,” ucapnya.

Penjaga istana itu tampak terkejut. Ia bergegas masuk ke dalam istana dan mengabarkannya kepada sang raja Kerajaan Naungsasi. “Raja mengizinkan Tuan untuk masuk ke dalam istana,” kata penjaga setelah melapor ke raja.

Putra Raja akhirnya bertemu dengan Raja Kerajaan Naungsasi. Sang Raja rupanya sudah pasrah kepada siapapun yang berniat baik menyembuhkan putrinya. Putra Raja lalu meneliti tubuh sang putri untuk mencari sumber penyakitnya. Rupanya, di bagian leher tampak sesuatu yang bersinar. Maka Putra Raja lantas berusaha membuka mulut sang putri. Tak disangka, benda yang bersinar itu adalah Pancing Emas yang selama ini dicarinya. Pancing emas itu bersarang di tenggorokan sang putri.

Ia menduga itulah sumber penyakit dari sang putri. Maka Putra Raja dengan pelan mengeluarkan pancing emas tersebut. Lalu menyimpannya untuk dikembalikan ke Kerajaan Arung Paria. Setelah itu, sang putri menjadi sembuh dan bisa berbicara lagi.

Raja Kerajaan Naungsasi sangat gembira. Kegembiraan itu juga dirasakan oleh semua penggawa dan seluruh rakyat Kerajaan Naungsasi. Rakyat berbondong-bondong datang ke istana untuk melihat sosok yang berhasil menyembuhkan Putri Dasar Laut itu.

Sebagai tanda terima kasih, Raja Kerajaan Naungsasi meminta Putra Raja untuk memilih hadiah. Ia berjanji akan memberi apapun yang dimintanya. Putra Raja hanya tersenyum. Ia lalu memandangi langit-langit kerajaan yang berisi sejumlah sangkar burung. Di dalamnya tampak sejumlah burung yang selama ini menjadi kesayangan sang raja.

Perhatian Putra Raja sempat membuat perasaan Raja Kerajaan Naungsasi berdebar-debar. Ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatir jika Putra Raja meminta burung-burung kesayangannya itu. Ia pun berusaha mengalihkan perhatian sang Putra Raja. “Anak muda! Apakah kamu menginginkan emas dan berlian?”

Namun mata Putra Raja tak pernah lepas dari burung-burung tersebut. “Saya tidak ingin hadiah yang lain, kecuali burung-burung ini,” kata Putra Raja. Asa Raja Kerajaan Naungsasi agar Putra Raja memilih hadiah yang lain pun pupus. Akhirnya, Raja Naungsasi mengabulkan permintaan buah hatinya. Akan tetapi, burung-burung itu tidak diserahkan secara langsung. “Saya akan mengirimkan burung-burung ini kepadamu setahun sekali dalam musim timur. Yakinlah, saya tidak akan ingkar janji,” kata Raja.

Putra Raja sangat senang dan bergegas kembali ke daratan. Putra Raja kemudian menemui sang adik dan kembali menyusuri Pantai Mandar menuju Kerajaan Arung Paria. Sesampainya di istana Kerajaan Arung Paria, Putra Raja lalu menunjukkan Pancing Emas kepada raja dan para penggawa dan hulubalang. Seisi kerajaan pun gembira.

Putra Raja kemudian menceritakan pengalamannya di Kerajaan Naungsasi kepada Raja Arung Paria. Ia juga mengisahkan bahwa Raja Naungsasi akan mengirim burung-burung miliknya setiap tahun sekali pada musim timur melalui Laut Mandar.

Dan janji tersebut akhirnya ditepati oleh Raja Naungsasi. Setiap memasuki musim timur, langit Laut Mandar dipenuhi burung-burung yang terbang berkelompok. Namun burung itu bentuknya unik lantaran bersisik seperti ikan. Putra Raja kemudian memberi nama burung tersebut sebagai tuing-tuing atau dalam bahasa Indonesia dikenal bernama ikan terbang.

Sejak itu, ikan tuing-tuing menjadi sajian dalam pesta-pesta kerajaan. Ikan itu sampai sekarang masih menjadi sajian yang terkenal di daerah Mandar. Bahkan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Sulbar.

TRI S

Disunting dari buku karya Harlina Indijati yang berjudul Tuing-Tuing Dan Pancing Emas yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada 2016. Sumber: Kemendikbud RI (https://labbineka.kemdikbud.go.id/bahasa/ceritarakyat/fbd7939d674997cdb4692d34de8633c4-baca

 

 

 

 

 

 



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas