Budaya

Kamis, 03 September 2015 | 11:11

Kalumpang, bukan sekedar kecamatan terluas di pegunungan Mamuju, ibu kota Sulawesi Barat. Daerah yang mencakup komunitas adat Tana Lotong itu menyimpan sejuta kisah asal muasal peradaban manusia di Sulawesi. Bangsa Austronesia, bangsa penutur yang berasal dari Asia daratan diyakini kali pertama menginjakkan kaki di wilayah ini.

Keberadaan bangsa yang menurunkan populasi di sepanjang Pasifik sampai Madagaskar, serta Selandia Baru sampai Hawaii itu terlacak melalui penemuan sejumlah situs di wilayah tersebut. Situs ini diyakini berusia sekitar 3.600 tahun sebelum masehi. Terbilang tua, lantaran mendekati catatan waktu penutur Austronesia kuno menyebar di nusantara sekitar 4.000 SM.

Temuan arkeologi yang termasyur di wilayah itu adalah situs Minanga Sipakko dan Kamassi. Penemuan yang kelak dikenal sebagai situs Kalumpang itu merupakan wilayah pegunungan yang menyimpan alat-alat prasejarah seperti gerabah, tembikar, mata panah dan kapak batu.

Situs ini kali pertama diperkenalkan van Stein Callenfels, peneliti Belanda yang menggali di wilayah tersebut pada 1933. Ia melakukan penelitian setelah tiga tahun sebelumnya penilik sekolah Majene Amiruddin Maulana menemukan sebuah patung Buddha berjubah perunggu di Sikendeng, tepi Sungai Karama.

Patung yang kini tersimpan di Museum La Galigo, kompleks benteng Fort Rotterdam Makassar, Sulawesi Selatan, itu terbilang berbeda dari kebanyakan patung Buddha di nusantara. Patung diduga dipengaruhi gaya Budha Greeco, di India Selatan, tepatnya aliran kesenian Amarawati. Aliran yang pengaruhnya cukup besar ke kawasan Asia Tenggara pada abad 2 hingga 7 Masehi.

Van Stein lantas menginformasikan temuannya dalam Kongres Prasejarah Asia Timur di Manila pada 1951. Ilmuan dunia pun berdatangan ke Kalumpang hingga sekarang. Mereka terus menghasilkan penemuan baru yang kini diperkirakan mencapai 12 situs.

Yang menarik di antaranya adalah Batu Tabuqung, sebuah kompleks makam kuno di Dusun Kondobulo. Pemakaman ini mirip situs Londa di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, lantaran kerangka manusia tak dikubur, melainkan disimpan dalam peti kayu berukir yang diletakkan di tebing batu. Konon, kerangka kuno tersebut jauh lebih besar ukuran normal orang Indonesia.

Penemuan lainnya terdapat di Dusun Lebani, berupa wilayah yang mengandung tanah liat untuk membuat tembikar. Tanah ini cukup unik karena berwarna biru laut dengan tekstur yang lembut serta bau yang khas. Sejak dahulu kala, warga Lebani menjadikannya sumber kerajinan tangan.

Penemuan yang tak kalah menarik adalah batu di puncak gunung yang ditumbuhi padi. Batu yang dinamai warga pare dewata atau pare manurung itu konon berganti jenis dengan sendirinya setiap tahun. Tanaman yang dipercaya warga berasal dari anugerah dewa itu pernah menjadi sumber makanan bagi warga Tana Lotong.

Secara geografis, wilayah Tana Lotong berbatasan dengan Tana Toraja dan Luwu Utara, di sebelah timur, Mamasa di sebelah selatan, Kecamatan Kalukku sebelah Barat, serta Budong-budong di sebelah utara. Dari Ibukota Kecamatan kalumpang, hanya tersisisa jarak 50 km sebelum mencapai Toraja, wajar budaya di daerah ini mirip dengan sentra wisata Sulawesi Selatan itu.

Sayangnya, di banding ke Tana Toraja, akses transportasi dari Mamuju masih belum sepenuhnya mendukung ke daerah ini. Padahal jarak dari ibu kota Sulawesi Barat ke Kalumpang hanya sekitar 135 kilometer yang sebenarnya bisa ditempuh sekitar 3 jam. Akibatnya, waktu tempuh bisa melorot hingga tujuh jam.

Kondisi ini tak lepas dari medan jalan yang cadas lantaran melewati sekitar 15-20 anak sungai berbatu dan menerobos hutan lebat. Itu ditemukan setelah melewati Tasiu, sekitar 30 kilometer dari Mamuju, menuju Kalumpang. Disarankan menggunakan mobil seperti jeep atau sepeda motor jenis trail. Bisa juga menumpang mobil bak terbuka yang bisa disewa di Mamuju atau Tasiu dengan tarif sekitar Rp 100 ribu.

Bila hendak kesana, tidak dianjurkan pada musim penghujan lantaran sungai kerap meluap dan ketersediaan jembatan yang minim. Wilayah Tana Lotong juga masih perawan dari teknologi dengan tidak adanya sinyal dan aliran listrik yang hanya mengandalkan genset. Tapi bagi petualang dan senang dengan sejarah, wilayah ini direkomendasikan untuk dikunjungi.

MONGABAY | KOMPAS| DAHRIDAHLAN BLOGSPOT | KOMPADANSAMANDAR | KAMPUNG-MANDAR
sumberfoto : tanalotongmemanggil2014

 

 



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas