Polewali Mandar

Senin, 09 September 2019 | 20:57

Puluhan Unit Rumah Transmigran Kosong/ Sulbarkita.com-Ahmad

Polman, Sulbarkita.com -- Puluhan Kepala Keluarga (KK) transmigran asal Pulau Jawa yang berada di Desa Piriang Tapiko, Kecamatan Tubi Taramanu (Tutar) meninggalkan lokasi permukiman transmigrasi. Salah satu alasannya adalah persoalan pendidikan di wilayahnya yang cukup rendah.

“Sekolahan hanya satu, itupun hanya Sekolah Dasar dan gurunya juga hanya satu,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Polman, Abdul Salam saat ditemui di kantornya, Senin, 9 September 2019.

Transmigran yang telah dua tahun menempati lokasi tersebut kebanyakan berasal dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Yang pulang itu hampir seluruhnya dari Jawa, tapi penduduk asli tetap ada,” ujar Abdul Salam.

Pola transmigrasi beragam sesuai aturan Kementerian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Kemenakertrans), ada yang 70 persen penduduk lokal dan 30 persen penduduk luar, ada juga 80 persen penduduk lokal dan 20 persen penduduk luar.

“Transmigran penduduk lokal tetap ada, tapi transmigran dari Jawa tahun anggaran 2016 ada 10 KK dan 2017 ada 15 KK, total 25 KK sekarang sisa empat KK,” kata Abdul Salam.

Menurutnya, para transmigran yang bermukim di Tutar ini telah diberikan jaminan hidup selama satu tahun dan diberikan lahan dua hektar per KK. “Tapi lahannya itu tidak boleh diperjual belikan kalau belum cukup lima tahun,” jelas Abdul Salam.

Transmigran itu, kata Abdul Salam, umumnya bukan petani, hanya saja mereka telah mendapat program transmigrasi. Untuk menunjang mereka, pemerintah telah memperbaiki sarana transportasi melalui anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Afirmasi dan APBN senilai miliaran rupiah. “Mereka di sana kembangkan tanaman di lahan kering, seperti ubi dan jagung,” kata dia.

Ketua Kerukunan Pelajar Mahasiswa Pitu Ulunna Salu (KPM-PUS), Irfan, sangat menyayangkan transmigran asal Jawa berbondong-bondong tinggalkan Tutar. Hal itu lantaran uang rakyat yang digunakan untuk program transmigrasi ini sangat besar.

Belum lagi ditambah anggaran perbaikan jalan dan fasilitas lainnya di wilayah transmigrasi yang jumlahnya miliaran rupiah. “Saya sudah tinjau ke sana, saya lihat transmigran dari Jawa sisa dua KK yang menempati rumahnya, yang lainnya kosong melompong,” tuturnya.

Ahmad G



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas