Mamuju

Selasa, 11 Agustus 2015 | 14:44

Anoa sedang makan--sumber foto : klikhotel.com

Anoa, Si Kerbau Cebol

Anoa adalah hewan endemik Sulawesi, banyak ditemukan di pegunungan Polewali Mandar, Mamasa, dan Mamuju . Ada dua spesies anoa, yaitu Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Kedua jenis ini tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Keduanya juga termasuk jenis yang agresif dan sulit dijinakkan untuk dijadikan hewan ternak.

Kedua jenis ini dibedakan berdasarkan bentuk tanduk dan ukuran tubuh.Anoa dataran rendah relatif lebih kecil, ekor lebih pendek dan lembut, serta memiliki tanduk melingkar.Sementara anoa pegunungan lebih besar, ekor panjang, berkaki putih, dan memiliki tanduk kasar dengan penampang segitiga.Penampilan mereka sepintas mirip dengan kerbau, dengan berat berat tubuh 150-300 kilogram dan tinggi 75 centimeter. Wajar bila banyak yang menyebut anoa sebagai kerbau kerdil.

Anoa termasuk hewan herbivora. Di alam bebas, anoa memakan makanan yang berair seperti pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian.[Anoa dataran rendah terkadang juga meminum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka. Adapun di dataran tinggi, anoa juga menjilat garam alami untuk memenuhi kebutuhan mineralnya.

Anoa bisa bertahan hidup sekitar 20 tahun hingga 25 tahun, dan sudah mampu kawin serta berkembang biak pada umur 2 tahun sampai 3 tahun.Saban tahunnya, induk anoa rata-rata hanya melahirkan satu bayi anoa. Bayi anoa memiliki bulu berwarna cokelat keemasan atau kekuningan dan sangat tebal. Warnanya perlahan akan berubah menjadi lebih gelap seiring dengan pertumbuhannya.

Maleo, Si Burung yang Mandiri

Maleo adalah sejenis burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm, dan merupakan satu-satunya burung di dalam genus tunggal Macrocephalon. Burung ini memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga, dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan.

Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina hampir serupa. Namun biasanya, betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan. Pakan burung ini terdiri dari aneka biji-bijian, buah, semut, kumbang serta berbagai jenis hewan kecil.

Maleo bersarang di daerah pasir yang terbuka, daerah sekitar pantai gunung berapi dan daerah-daerah yang hangat dari panas bumi. Itu karena induk Maleo tidak mengerami telurnya yang berukuran besar, mencapai lima kali lebih besar dari telur ayam. Telurnya hanya ditanam di tanah dengan kedalaman kurang lebih 50cm (bahkan ada yang mencapai 1 m). Sehingag proses penetasan dibantu oleh panas bumi.

Yang unik dari maleo adalah, saat baru menetas anaknya sudah bisa terbang. Ini karena ketika keluar dari cangkang, sayap anak maleo sudah seperti unggas dewasa. Maleo juga adalah unggas yang mandiri. Setelah menetas, anak Maleo yang terkubur dalam tanah langsung menggali jalan keluar tanpa bantuan sang induk. Untuk mencapai permukaan tanah, mereka membutuhkan waktu kurang lebih 48 jam!

Tiba di permukaan, anak maleo memiliki kecerdasan menghindari hewan pemangsa, seperti ular, kadal, kucing, babi hutan, dan burung elang. Mereka bersembunyi dalam hutan dan mencari makan sendiri tanpa bantuan sang induk. Maleo juga satwa yang setia pada pasangannya. Sepanjang hidupnya, ia hanya mempunyai satu pasangan dan tidak akan bertelur lagi setelah pasangannya mati.

Diambang Kepunahan

Anoa tercantum dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu satwa yang tidak boleh diburu, ditangkap, dan dibunuh serta diperdagangkan. Kedua spesies anoa termasuk dalam daftar sepuluh jenis mamalia yang menjadi prioritas nasional untuk dilestarikan.

Sejak tahun 1960-an, anoa berada dalam status terancam punah.Dalam lima tahun terakhir populasi anoa menurun secara drastis.Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup.Anoa sebenarnya tidak mempunyai musuh (predator) alami. Ancaman kepunahan lebih disebabkan oleh deforestasi hutan (pembukaan lahan pertanian dan pemukiman) dan perburuan yang dilakukan manusia untuk mengambil daging, kulit, dan tanduknya.Kesadaran masyarakat yang rendah terhadap hewan langka ini membuat sejumlah lembaga swadaya meminta pemerintah turun tangan.

Begitu pula dengan Maleo, berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, tingkat kematian anak burung yang tinggi, populasi yang terus menyusut serta daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Maleo dievaluasikan sebagai terancam punah di dalam IUCN Red List. Habitat yang semakin sempit dan telur-telurnya yang diambil oleh manusia membuat jumlahnya kurang dari 10.000 ekor saat ini.

IPBMAG.IPB | ALAMENDAH.ORG | WIKIPEDIA
sumberfoto : klikhotel.com

 



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas