Advertorial

Jumat, 22 November 2019 | 22:40

Pertunjukan Saeyyang Pattu'du di Majene/Sulbarkita.com-Ashari

Majene, Sulbarkita.com -- Festival Saeyyang Pattu’du atau kuda menari telah menjadi agenda wisata budaya Pemerintah Kabupaten Majene. Setiap tahunnya, festival ini digelar secara meriah dengan melibatkan berbagai siswa sekolah tingkat SD, SMP hingga SMA.

Saeyyang Pattu’du disebut juga Kuda Menari, budaya ini termasuk salah satu warisan budaya di tanah Mandar yang cukup lawas. Di zaman kerajaan di Mandar, hanya kaum bangsawan yang diperbolehkan. Namun begesernya zaman, tradisi tersebut berkembang dimasyarakat. Bahkan dijadikan sebagai motivasi bagi anak-anak yang telah khatam bacaan Alqurannya.

Bupati Majene dan Kepala Disbudpar Majene

 

Tamat membaca Alquran di tanah Mandar merupakan hal yang sangat istimewa dan perlu untuk di syukuri. Para orang tua atau kelompok masyarakat akan mengadakan pesta adat Saeyyang Pattu’du. Pesta tersebut akan dilaksankan satu kali setahun bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW atau pada Rabiul Awal.

Dengan berpakaian adat Mandar, anak-anak tersebut diarak di atas kuda. Kuda itu akan menari saat pawang dan kelompok Parrawana (Rebana) beraksi dengan semangat. Mereka juga diiringi pantun Mandar atau Kalindaqdaq membuat atraksi kuda menari itu semakin menarik.

Pertunjukan kelompok rebana

 

Setiap kuda ditunggangi dua orang anak, yakni satu orang To Tammaq dan satu orang orang Massaiyyang to Tammaq, dikawal oleh beberapa orang yang juga berpakaian adat atau disebut Passarung. Di depan kuda ada pemain rebana yang berjumlah 6-12 orang, kelompok rebana yang secara terus-menerus memainkan rebana sembari berjingkrak-jingkrak mengiringi kuda yang menari.

Untuk tahun ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Majene kembali menggelar festival tersebut selama dua hari, dimulai 12 - 13 November 2019.

Bupati Majene dan peserta festifal Saeyyang Pattu'du

 

Ketua Panitia kegiatan, Arismunandar mengatakan, tempat kegiatan dimulai dari pelataran Gedung Assamalewuang Majene hingga panggung penghormatan di area stadion Prasamya Majene. Peserta tahun ini mencapai 63 Peserta dari kalangan siswa SD dengan rincian 52 peserta, tingkat SLTP 7 peserta, SLTA 2 peserta dan TPA 2 peserta.

Bupati Majene, Fahmi Massiara sangat antusias menyaksikan festival tahunan tersebut. Menurutnya, Festival ini akan memberikan hiburan kepada masyarakat, juga untuk membangun nuansa kearifan lokal dan mempertahankan tradisi kebudayaan Mandar. Untuk memajukan daerah ini, kata Fahmi, harus dipacu dari berbagai sektor, termasuk dengan mempertahankan tradisi kebudayaan.

Untuk itu, ia meminta agar Disbudpar Kabupaten Majene terus meningkatkn kualitas pelaksanaan acara agar festival ini menjadi agenda wisata kebudayaan yang besar. “Patut kita kembangkan untuk mendorong kemajuan pariwisata dengan nuansa tradisional,” ungkap Fahmi saat menghadiri acara pembukaan, di Stadion Prasamya Mandar Majene.

Advetorial



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas