Advertorial

Kamis, 08 Agustus 2019 | 20:39

Perahu Sandeq Dalam Lomba Segitiga Sandeq Race di Polman/ Sulbarkita.com-Ahmad

Polman, Sulbarkita.com -- Pembukaan lomba Segitiga Sadeq Race 2019 di Pantai Bahari Polewali Mandar dimeriahkan penampilan tarian tradisional enam negara peserta Polewali Mandar Internasional Folk and Art Festival (PIFAF) pada Rabu, 8 Agustus 2019.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat, Farid Wadji mengatakan, terdapat 21 perahu Sandeq yang ikut dalam lomba tersebut. “Mereka datang dari Majene, Karama, dan Pambusuang. Kita berharap tamu asing yang hadir melihat ini sebuah peristiwa kebudayaan, juga menjadi kegiatan kepariwisataan,” ujarnya.

Menurut Farid, Sandeq yang merupakan perahu kebanggaan suku Mandar itu sudah sangat terkenal di mancanegara. Itulah mengapa kegiatan itu diselenggarakan, karena untuk menjaga kebudayaan bahari masyarakat Mandar awet. “Ke depan, peristiwa budaya bahari ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menjadikan peluang ekonomi,” kata dia.

Farid berharap acara tersebut terus dilestarikan dan pelaksanaannya tidak berlalu begitu saja. Kata dia, dari kegiatan Sandeq Race itu masyarakat dapat menemukan peluang bisnis misalnya usaha warung makan dan sebagainya. “Sebelumnya kami dari pemerintah sudah merawat perahu peserta, kami berikan dana perbaikan perahu dan dana untuk kebutuhan selama kegiatan,” katanya.

Sandeq Race etape Polewali Mandar-Majene dimulai pada Kamis, 8 Agustus 2019. Panitia menyediakan uang pembinaan sebanyak Rp 30 juta untuk juara pertama, juara kedua Rp 25 juta hingga 10 besar, dan peserta yang berada di posisi 11 sampai 21 mendapat uang senilai Rp 10 juta.

Tim Percepatan Pengembangan Bahari, Kementerian Pariwisata, Ratna Suranti menyampaikan, perahu Sandeq harus tetap dilestarikan, karena perahu tersebut akan punah kalau masyarakat tidak menggunakannya lagi.

“Pemerintah daerah harus turut berperan menjaga keberadaan Sandeq. Kita harus bangga karena Sandeq berpotensi untuk mempromosikan daerah, karena telah terkenal di dunia,” kata Ratna.

Direktur Peserta PIFAF Ekuador, Mr. Jhony Faican mengaku sangat senang datang di Polewali Mandar dan melihat perahu Sandeq di Mandar. “Terima kasih warga Polewali Mandar telah menunjukkan kami beberapa tradisi, salahsatunya Sadeq Race yang sangat luar biasa ini. Ada beberapa kesamaan dengan negara kami. Tapi di sini sangat luar biasa layarnya,” kata dia berdasarkan traslate

Dalam lomba Segitiga Sandeq Race itu, perahu Sandeq dengan nama Cahaya Mandar milik Pemerintah Kabupaten Mamuju meraih juara satu. Disusul Merpati Putih milik Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Barat dan posisi ketiga direbut Mandala Bintang Timur milik Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

 

Sandeq Perahu Tradisional Tercepat di Dunia

Dilansir dari regional.kompas.com, 17 Agustus 2015, perahu Sandeq selama ini kerap dianggap sebagai perahu tradisonal tercepat yang pernah ada di Austronesia, bahkan disebut sebagai yang tercepat di dunia. Kecepatannya bisa mencapai 15 sampai 29 knot.

Peneliti maritim asal Jerman, Horst H Liebner, menemukan bahwa perahu Sandeq memiliki ketangguhan dalam menghadapi angin dan gelombang saat mengarungi laut lepas. Tak heran jika perahu ini pernah dipilih untuk mewakili Indonesia di ajang Tonnerres Les Spektakuler de Brest Festival 2012 di Bretagne, Perancis. Sebanyak 12 orang berlayar menggunakan perahu Sandeq, bergabung dengan 2.500 kapal layar dari seluruh dunia, pada 13-19 Juli 2012 silam.

Perahu Sandeq juga menjadi salah satu aset nasional yang telah dipamerkan di Paris, Perancis. Di museum d’Histoire Naturelle, perahu Sandeq dipajang dalam instalasi berjudul Semangat Mandar. Desain perahu ini dikabarkan berusia 3.000 tahun, dan menjadi salah satu yang tertua dalam sejarah maritim Indonesia.

Advertorial



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas