Advertorial

Rabu, 28 Agustus 2019 | 23:27

Bupati Majene, Fahmi Massiara memberikan sambutan/Sulbarkita.com-Ashari

Majene, Sulbarkita.com -- Pemerintah Kabupaten Majene melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menyelenggarakan kegiatan puncak perayaan Hari Jadi Majene (HJM) ke-474 di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Majene, Kamis, 15 Agustus 2019.

Para pejabat daerah termasuk Bupati Majene menggunakan kendaraan tradisional Mandar berupa bendi atau dokar menuju lokasi acara. Rombongan diantar dari Gedung DPRD Majene menuju Pendopo rumah jabatan Bupati Majene.

Prosesi Acara peringatan yang ke lima itu dimulai pada pukul 9.30 Wita dengan pembukaan rapat paripurna dilanjutkan orasi budaya yang dibawakan Ketua DPRD Kabupaten Majene, Darmansyah.

Seperti ditahun-tahun sebelumnya, seluruh tamu undangan serta para unsur pimpinan memakai pakaian adat Mandar. Tamu pria memakai jas tutup, sokko (Peci) dan sarung sutera khas Mandar yang terlilit di pinggang. Sementara untuk wanita menggunakan pakaian adat boko, baju pokko, hiasan kepala hingga sanggul bagi yang tidak menggunakan jilbab.

Dilaksanakan juga upacara Massossor atau upacara pecucian benda-benda pusaka yang berasal dari Kecamatan Malunda.

Bupati Majene Fahmi Massiara saat memberikan sambutannya kembali menyingung sejarah kesepakatan penentuan hari jadi Majene. Kata dia, itu didasari kejadian penting pada 15 April 1909 silam. “Hari itu merupakan penetapan Afdeling Mandar oleh kompeni Belanda,” ujarnya.

Sementara dasar kesepakatan pada Agustus, kata Fahmi, juga karena beberapa peristiwa penting yang terjadi, diantaranya saat Ammana Pattolawali dan Ammana Wewang memimpin masyarakat Majene menyerbu Resident Belanda di Camba dan Pangaliali.

Selain itu, penentuan Majene sebagai pusat pemerintahan Swatantra Mandar (Mandar Lama). Ada pun dasar penentuannya pada 1545 disepakati menajdi puncak kejayaan dan masa ke emasan kerajaan-kerajaan di Majene yang dikenal sebagai federasi 14 kerajaan di Mandar Pitu Ba’bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu.

Fahmi yang telah memimpin Majene di tahun ketiga ini berharap agar nilai-nilai sejarah pada kesepakatan hari jadi Majene menjadi semangat daya juang bersama dalam membangun daerah yang disegani di Provinsi Sulawesi Barat.

“Hari Jadi Majene harus menjadi semangat, daya juang untuk membangun daerah kita dan menjadi daerah yang disegani di Provinsi Sulbar,” ucapnya.

Turut hadir dalam kegiatan itu Sekertaris Provinsi Sulbar, Muh Idris DP, sejumlah pejabat teras Perintah Kabupaten Majene, dan Para Mara’dia (Raja), tokoh agama, kalangan akademisi, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Advetorial



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas