Polewali Mandar

Senin, 03 Desember 2018 | 21:25

Fogging di Desa Batetangnga/Sulbarkita.com-Ahmad G

Polewali Mandar, Sulbarkita.com—Kasus demam berdarah dengue (DBD) yang mewabah di Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Dinas Kesehatan( Dinkes) Polewali Mandar, Senin 3 Desember. Status tersebut diterbitkan setelah penderita DBD di wilayah itu meningkat secara signifikan.

Berdasarkan data Puskesmas Binuang, warga Batetangnga yang terjangkit DBD sudah mencapai 19 orang. Satu penderita lainnya berasal dari desa tetangga yakni Desa Mirring, "Memang Batetangnga selalu rawan DBD makanya kami akan observasi masalah ini, " kata Sumiati, Pengelola DBD dan Surveylan Puskesmas Binuang, saat mengunjungi desa tersebut, Senin.

Kasus DBD di Batetangnga sudah menjadi perhatian publik sepekan terakhir, Sebab seorang anak bernama Rafli Alamsyah, 11 tahun, meninggal dunia diduga karena DBD. Dugaan tersebut diperkuat penjelasan juru medis kepada Sahabuddin, orang tua Rafli, yang mendiagnosa anaknya DBD sebelum meninggal.

Warga yang panik pun melakukan penggalangan dana fogging atau penyemprotan nyamuk melalui media sosial. Hal itu dilakukan karena mereka tak puas dengan hasil penyemprotan Dinkes Polman yang hanya di beberapa titik wilayah saja.

Baca juga: 
DBD Telan Korban, Warga Polman Galang Dana Fogging di Medsos

Sumiati mengatakan sebanyak enam orang dari 19 warga yang penderita DBD itu masih menjalani perawatan medis intensif. Satu orang lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Polman, satu di Klinik Miftah, dan empat lainnya dirawat di Puskesmas Binuang, “Penderita tidak semuanya anak-anak, tapi ada juga yang dewasa," ujar Sumiati.

Kepala Dinkes Polman Andi Suaib Nawawi mengatakan status KLB penyakit DBD di Batetangnga, langsung ditindaklanjuti dengan penyemprotan atau fogging di wilayah tersebut. Suaib memastikan kali ini fogging dilakukan secara menyeluruh. "Fogging tidak hanya di rumah penderita DBD saja, tapi tapi secara menyeluruh," katanya menegaskan di Desa Batetangga, Senin.

Menurut Suaib, nyamuk aedes aegypti mudah berkembangbiak di Batetangnga lantaran daerah tersebut terbilang kumuh. Selain banyak barang bekas yang berserakan, sejumlah lahan kosong di permukiman tersebut juga digunakan untuk usaha sarang burung walet.

“Hampir dibilang kumuh karena di sini banyak sekali tempat penampungan air dari ban bekas, kaleng, plastik, tempat kasur gabus, dan wadah air sarang burung walet,” katanya, “Ini potensi menjadi tempat berkembng biaknya nyamuk aedes aegypti."

Oleh karena itu, Suaib berharap masyarakat menjadikan status KLB ini sebagai pelajaran berharga untuk menjaga kebersihan. Mereka juga tak boleh mengandalkan fogging yang hanya bersifat sementara, " Larva nyamuk tidak mati kalau difogging, resikonya kalau terus difogging nyamuknya justru menjadi resistan (kebal),” kata dia.

Adapun Ketua Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat( PATBM ) Sikadudu, Desa Batetangnga, Juliani menyatakan daerahnya berhasil menyabet juara satu Pola Hidup Bersih dan Sehat( PHBS ) tingkat Kabupaten Polman pada bulan lalu. Oleh karena itu, dia tak setuju bila disebut kumuh. "Hampir bersamaan Batetangnga juara PHBS dengan wabah DBD masuk pertama kali," katanya melalui sambungan telepon.


AHMAD G.



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas