Budaya

Rabu, 12 Agustus 2015 | 12:56

Artis asal Sulbar--sumber :kompasiana-jpnn

Jika dulu, artis bisa dihafal namanya satu persatu, sekarang hampir tak mungkin lagi. Ribuan artis menghiasi stasiun tv ini dan itu. Ada yang populer seperti Luna Maya, adapula yang timbul tenggelam seperti upss... Itulah dunia artis yang penuh lika-liku (penulis sok tahu hehe..). Tapi tahukah anda, di antara ribuan artis itu, ada "segelintir" orang Sulbar yang tak hanya ngartis karena tampang kece, tapi terkenal karena bakat dan prestasinya. Siapakah mereka?

Ikang Fawzi

Meskipun karirnya menukik di tahun 90-an, Ikang Fawzi tetap menjadi legenda rock yang masih eksis hingga sekarang. Usia yang lebih dari setengah abad benar-benar tak mempan olehnya. Terbukti, pelantun lagu Preman itu masih menghiasi layar kaca dengan penampilan dan perawakan yang hampir tak berubah.

Siapa sangka suami dari Marissa Haque ini memiliki darah kental Mandar, suku asal Sulawesi Barat. Darah Mandar itu datang dari Fawzi Abdulrani, sang ayah yang juga diplomat. Fawzi pernah bertugas di kedutaan Indonesia untuk Mesir, Belgia, Jepang, Malaysia, dan Pakistan. Kemudian menjadi staff khusus Wakil Presiden RI Umar Wirahadikusumah dan pengajar di Kementerian Luar Negeri.

Wajar bila Ikang menghabiskan masa kecilnya (TK dan SD) di Belgia dan Jepang, mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai diplomat. Bakat seninya juga mengalir dari sang ayah yang semula pemain Hawaiian, pencipta lagu, dan penyanyi. Bakat dari ayah itu diasahnya melalui kursus Yamaha di Jepang pada usia 10 tahun. "Kalau ke Sulawesi itu selasa pulang kampung," kata Ikang saat berkunjung ke Makassar.


Cici Paramida

"Wulan Merindu" mungkin salah satu lagu dangdut yang cukup populer hingga sekarang. Dipadu suara merdu penyanyinya, Hamidah Idham atau yang lebih dikenal Cici Paramida. Cici yang lahir 7 September 1973 berdarah Mandar lho, bahkan dia juga memiliki sejumlah lagu berbahasa Mandar.

Kecintaan terhadap Mandar yang mengantarkan cici Menjabat Ketua Koordinasi Pagelaran Budaya 'Mistery of Mandar' pada 2008. Di ajang ini, dia mengenalkan budaya Mandar yang dinilainya masih perlu diekspose lebih besar lagi, "Selama ini budaya Mandar tidak pernah terlihat, yang menonjol Sulawesi Selatan dengan Makassar, padahal sarung bugis yang terkenal aslinya merupakan sarung Mandar," kata Cici kala itu.


Siti Rahmawati

Seperti tak mau kalah sama kakak Cici, si adik Siti Rahmawati juga masuk ke dunia hiburan tanah air. Alih-alih tenggelam di bawah "ketiak" sang kakak, wanita lahir 15 September 1981 menunjukkan bakat yang tak kalah sengitnya. Ia menjuarai Konteks Dangdut Indonesia pada 2004.

Bukan hanya itu, towaine Mandar (perempuan Mandar) ini juga membuktikan diri tak jago di satu kompetisi. Ia pun ditempa beragam penghargaan yang mendatangkan bercak kagum semua orang. Siti KDI, demikian dia disapa, memenangi kategori Artis Solo Bidang Dangdut Kontemporer dalam AMI Awards 2005, menyisihkan seniornya seperti Ikke Nurjanah, Denada, Didi Kempot dan Inul Daratista, wow!

Pada tahun yang sama, Siti meraih penghargaan sebagai penyanyi dangdut terbaik versi pemirsa MTV atau Best Dangdut mengalahkan Purdie Chandra, almarhum A. Rafiq, Nelly Agustin, Lilis Karlina, dan Denada dalam Penghargaan MTV Indonesia 2005. Hebat kan!

Nurdin Yaseng

Bakat anak Mandar di bidang tarik suara memang tak boleh dipandang remeh, selain Siti KDI, ada juga Nurdin Yaseng yang berhasil menyematkan mahkota KDI di atas kepalanya. Pria kelahiran Majene, Sulawesi Barat, 8 Juni 1983 menyingkirkan ribuan pesaingnya dalam kompetisi yang berlangsung pada 2007 tersebut.

Prestasi ini memang seperti "rejeki yang turun dari langit" bagi Nurdin KDI, karena dia mulanya hidup sederhana di kecamatan Pamboang, sekitar 15 menit dari Kota Majene. Dia adalah putra bungsu dari enam bersaudara pasangan petani dan nelayan Yaseng dan almarhumah Dahari.


Maria Asteria Sastrayu Rahajeng 

Ilmu bikin rontok jantung mungkin dimiliki Maria, dengan senyumnya yang kece saya kira iman kita akan goyah. Wajar bila wanita bernama lengkap Maria Asteria Sastrayu Rahajeng berhasil menembus Miss Indonesia 2014. Ia berhasil membuat para juri konteks kecantikan itu klepek-klepek di depannya (penulis lebay bigittzz).

Bukan hanya kecantikan yang membuatnya memahkotai "ratu tercantik" Indonesia itu. Ia lulus dengan predikat cum laude dan pernah menjadi delegasi Indonesia dalam APEC Voices of the Future pada 2003 di Bali. Atas kemenangannya tersebut, Maria mewakili Indonesia dalam Miss World 2014 di London, Inggris. Ia masuk ke Top 25 & Winner Beauty with a Purpose.

Etss...maaf, Maria bukanlah orang Sulbar. Wanita kelahiran 1991 itu berasal dari Blora, Jawa Tengah. Itulah yeng membuat kemenangannya sebagai Miss Indonesia sempat kontroversial. Tapi, It's oke, kita ambil positifnya karena kehadirannya mempromosikan Sulbar di Indonesia. Ini juga harus jadi dorongan agar cewek-cewek Sulbar jangan mau ketinggalan doong!!


Mandar Mahesta

Yang duduk di bangku SD tahun 90-an dan suka dangdut, mungkin pernah mendengar lagu ini, "Bukaan yang pertama kali, aku melihatmuu, meneteskan air mata cintahh". Nah, lagu itu berjudul Air Mata Cinta, yang dinyanyikan Mandar Mahesta. Kata "Mandar" di depan namanya membuat banyak orang yakin dia orang Mandar. Mungkinkah?

Penulis sendiri masih bertanya-tanya karena hampir tak ada referensi di jagad maya yang menyebut dia orang Mandar; meskipun teman SMP di Polman bilang dia tetanggaan. Yang pasti, ada situs yang menulis dia punya lagu berbahasa Mandar. Entahlah, bagi penulis, Mandar Mahesta memang sosok misterius. Itu karena dia mirip banget dengan Nada Barakah, pelantun duet Nadi di lagu bang Haji Rhoma, Malam Terakhir. Akankah orang yang sama?

TRIBUNNEWS |  KAPANLAGI | PROFILMAKASSAR | IKANG-MARISSA.BLOGSPOT

 

 

 

 



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas