OPINI

Minggu, 14 Juni 2020 | 15:57

Ilustrasi/Sumber: picuki.com

Oleh: Tila Aryantini Tandi 
Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

COVID-19, penyakit yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Tiongkok, Desember 2019, tergolong baru dan sifatnya sangat menular. Penyebabnya adalah virus Corona yang menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). COVID-19 masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 dan tercatat ribuan orang sudah terserang penyakit ini.

Penyebaran penyakit ini membuat pemerintah meminta masyarakat untuk tinggal di rumah dan menjalani pembatasan interaksi sosial. Lockdown tidak menjadi pilihan karena dikhawatirkan melumpuhkan perekonomian. Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyatakan banyak masyarakat Indonesia bekerja mengandalkan upah harian sehingga lockdown akan sangat berdampak pada mereka.

Kendati demikian, anjuran pemerintah agar tetap di rumah juga mengganggu perekonomian masyarakat. Sebab tidak semua orang mendapatkan penghasilan dengan bekerja di rumah. Sehingga rentan mengalami krisis keuangan, dan kesulitan membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari. Contohnya driver ojek online, yang terkena imbas karena orang kini tak lagi membutuhkan jasa transportasi. Ditambah lagi larangan bagi ojol untuk mengangkut orang di wilayah yang sudah berstatus Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti Jakarta.

Begitu pula para gelandangan yang butuh perhatian dari masyarakat sekitar dan pemerintah. Lingkungan sekitar mereka banyak yang kotor, bahkan sebagian juga tidak punya tempat tinggal. Jangankan membeli masker dan hand sanitizer, kebutuhan pangan pun belum tentu sanggup mereka penuhi.

Nasib mereka yang tidak bisa mengakses dan membeli alat pelindung diri (ADP) ini perlu dipikirkan pemerintah. Terlebih umumnya kalangan ini sulit untuk melakukan karantina diri dan pembatasan interaksi sosial, sehingga lebih rentan terpapar virus Corona. Sejauh ini, kita bisa melihat bahwa kerja dari rumah adalah privilege kalangan menengah ke atas.

Terlepas dari persoalan penanganan Covid-19, ada juga dampak positif di balik pandemi ini. Pertama, orang mempunyai lebih banyak waktu untuk menjalin kedekatan antaranggota keluarga. Kedua, banyaknya orang melakukan aksi peduli sosial untuk mereka yang membutuhkan pertolongan. Ketiga, solidaritas untuk membantu tenaga medis. Saat ini tenaga medis bekerja di garis terdepan dan paling berisiko tertular virus tersebut.

Jumlah ADP yang minim, menggerakkan banyak orang untuk berpartisipasi membantu para tenaga medis dengan memberikan bantuan peralatan tersebut. Keempat, rapat online lebih efisien. Sebab perusahaan tidak perlu mengeluarkan dana untuk menyewa ruang pertemuan di hotel atau restoran. Belum lagi soal biaya transportasinya, dan waktu perjalanan. Kelima, kita mempunyai banyak waktu untuk melakukan hal yang pernah ditunda, dan hobi yang disenangi.

Keenam, polusi udara menurun drastis. Selama penerapan social distancing, jalanan kota berubah sepi. Kemacetan lalu-lintas yang biasanya jadi pemandangan sehari-hari di kota besar tak lagi terlihat. Asap kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi udara pun jauh menurun. Hasilnya, peringkat polusi udara  jauh membaik setelah pemerintah menerapkan strategi kerja di rumah ini.

Di Jakarta misalnya, Dinas Lingkungan Hidup menyebut, indeks kualitas udara pada Jumat, 28 Maret 2020 berada di level 89 atau kategori sedang. Kualitas udara Jakarta lebih bagus dari Rotterdam di Belanda, Berlin di Jerman, dan Kathmandu di Nepal. Sebuah kondisi yang sangat langka terjadi di pusat pemerintahan dan ekonomi negeri kita itu.

Ketujuh, satwa yang dilindungi leluasa berkembang biak, karena tidak mengalami gangguan dari manusia. Kedelapan, konsumsi plastik mengalami penurunan, berpengaruh terhadap perairan yang semakin bersih. Jumlah sampah plastik yang dibuang masyarakat juga diperkirakan ikut menurun. Kesembilan, konsumsi bahan bakar juga menurun karena orang jarang menggunakan kendaraan. Di sisi lain, pemerintah sudah berusaha mengurangi dampak negatif. Misalnya dengan membagi bahan pangan pokok, bantuan sosial tunai, dan dana desa.

Kepedulian terhadap sesama sangat penting untuk membantu negeri ini terbebas dari wabah COVID-19. Namun tak lupa, kita juga mesti peduli pada kesehatan diri sendiri, dengan membiasakan hidup sehat dan memakai APD dalam kondisi yang diperlukan.

 

 



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas